Sunday, December 25, 2011

ITU





Bayangan itu menemaniku disaat malam …
Datang dan pergi ..
Tak juga pasti ..

Aku tahu, aku cuma sendiri ..
Berharap ini bukan untukku ..
Namun hati ini telah mendapat yang tak terelakan

Aku jatuh di tempatku berdiri ..
Dan berusaha bangkit dengan sisa tenaga ..
Aku tidak mencari, aku tidak menyesali, dan aku tidak menangisi ..
Bagian dari diriku yang dibawa pergi ..





Created by Annisa PL

Friday, December 23, 2011

Short Story

Pria Super Bersih

Suatu pagi di hari Senin yang dituruni hujan lebat. Mama yang kerepotan menyajikan sarapan pagi berteriak cukup keras menyaingi suara gemuruh angin yang terus bersahut-sahutan.
“ Ayo ! Jangan lelet begitu ! Sudah jam berapa ini ?! “ ujar mama yang kerepotan mengancingkan pakaian adikku yang masih kelas dua SD. Pria mungil it uterus saja mengunyah roti berselai strawberrynya.
“ Iya, ma. Kakak juga sudah cepat ! “ ucap Anin sambil menyiapkan jas hujan yang tebal dan panjang.
“ Sayang, kamu pegangan yang erat ya sama kakak. Jangan kamu lepas sebelum sampai di sekolah. “ kata mama sambil mengecup dahi putra kecilnya. Kemudian Anin.
“ Hati-hati ! “ kata mama sambil melambaikan tangan. Anin menancapkan gas pada motornya cukup kencang.
Setibanya di sekolah, Anin langsung merapikan pakaiannya. Ia juga merapikan pakaian adiknya sebelum ia masuk ke dalam kelas. Kemudian mengecup pipi kanan adiknya yang chubby itu.
“ Rio, belajar yang rajin ya. “ kata Anin dengan lembut.
“ Iya, kakak. “ jawab Rio dengan satu kecupan di pipi kiri Anin. Ia tersenyum.
Hari itu Anin kelihatan seperti biasanya. Pakaiannya kusut, rambutnya pendeknya acak-acakan, dan ia tidak merasakan hal yang aneh sedikitpun.
“ Great ! Kali ini nilai ujian kimiamu seratus lagi. Aku cikup iri waktu ditugaskan untuk memnbagikannya. “ kata sahabat dekatnya, Tara.
“ Alhamdulillah. Hmm, disyukuri aja. Mungkin kamu belum maksimal. Hehe … “ jawab Anin dengan ekspresi meledek.
“ Kamu bisa bicara seperti itu. karena kamu enggak mengalami hal yang sama, bukan ? Aku kesal tiap kali menjadi yang kedua. Huh … “ timpalnya lagi dengan tampang lesu.
“ Oh, ya? Asal tidak jadi istri kedua aja ! Hahaha. “ balas Anin lagi.
“ Enak aja .. “ kata Tara sambil cemberut.
Sesaat hari itu terasa baik. Pelajaran hari Senin memang favoritnya. Fisika, TIK dan IDT (Ilmu Digital Terapan), Sejarah, dan Matematika. Tapi bagi siswa kelas XII IPA 1 lainnya mungkin tidak.
“ Kamu sudah dengar ? “ tanya Tara dengan tampang mengejutkan.
“ Dengar apa ? Kau enggak lengkap mengatakannya. “ jawab Anin datar.
“ Itu. Kau tahu anggota klub fotografi yang namanya Edgar ? “ tanya Tara.
“ Ah tidak. Kenapa ? Siswa popular yang dipuja-puja para siswi histeris itu lagi ? Atau yang lain ? “ ucap Anin meminta penjelasan.
“ Aku enggak tahu soal itu. Tapi aku dapat kabar, yang memenangkan lomba seni fotografi tingkat nasional antar sekolah unggulan dan akan ikut yang internasional. Hebat. Sekali lagi aku iri pada orang-orang disekitarku. “ jawabnya panjang lebar.
“ Oh, tentu. Tapi aku lebih bangga dengan diriku sendiri. Apa dia berprestasi di bidang akademis ? “ tanya Anin penasaran.
“ Kata Miss Dian, ya. Dia pintar dalam berbagai hal. Tapi ya itu … “ katanya terputus.
“ Eh Nin, ayo cepat ganti baju. Kita olah raga sepak bola hari ini
! “ kata Toto dari belakang pintu.
Tanpa merasa ada yang kurang jelas, Anin dan Tara langsung mengganti pakaian mereka dengan seragam olah raga. Rupanya anak laki-laki bersedia berbagi lapangan untuk bermain.
“ Kalian main saja, aku sudah sepakat dengan yang lainnya. Aku mau lihat kalian main. “ ucap Toto lagi pada anggota kelasku yang berbeda jenis dengannya (perempuan maksudnya) .
Anin begitu bersemangat. Ia memang dijuluki sebagai anak perempuan yang tercepat di kelasnya. Dengan gesit ia mengoper bola dan terjadi gol. Yang lainnya sudah kelelahan tapi Ann tetap bersemangat, dan kali ini ia ingin menendang dengan jarak yang cukup jauh dari gawang. Kemudian ia menendangnya dengan tenaga penuh.
“SRRUUUKKK !” suara bola yang menimpa apa yang ada di sekitarnnya.
“ Aduh ! “ kata seseorang dari balik tanaman hias. Yang lainnya menghampiri bola. Dengan cepat Anin berlari menuju tempat bola itu mendarat.
“ Aduh, menjijikan. “ ucapnya dengan ekspresi marah.
“ Hei, maaf ya. Aku yang menendang bola itu. maaf, itu sungguh enggak disengaja. “ kata Anin sambil bergegas menuju ke lapangan.
“ Pengusik .. “ balas anak itu pelan.
Tara terhilat terkejut. Anin yang sebenarnya mendengar satu kata dari anak itu mencoba menahan diri dan melanjutkan permainan.
Setelah jam pelajaran olah raga selesai, Anin kembali mengingat peritiwa tadi dan melamun.
“ Tenang saja. Kamu enggak akan mendapat masalah hanya karena orang aneh itu. matanya sipit, bukan ? hahaha … “ kata Toto yang sedang duduk di lantai.
“ Bagaimana kalau dia menganggapku enggak baik ? Aku hanya minta maaf tapi langsung pergi begitu saja. “ jawab Anin.
“ Percayalah. Semua akan baik-baik saja. Itu cuma kecelakaan kecil. Dia enggak cidera. Hanya pakaiannya yang kotor. “ kata Toto lagi sambil merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata.

Di toilet memang sedikit ramai. Ramai oleh beberapa siswi yang biasa bergosip. Terkadang terlihat menyemprotkan parfum yang menyengat, memasang anting-antng mereka, atau bahkan membersihkan wajah dengan obat-obat bermerek mahal. Anin sedang mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi.
“ Hei, kamu lihat Edgar tidak ? “ tanya seorang siswi bersuara tinggi.
“ Aku lihat dia di koperasi tadi. “ jawab temannya.
“ Sungguh ? Sedang apa dia disana ? “ tanya gadis pertama.
“ Sepertinya dia membeli kemeja baru. Karena kemejanya kotor. “ jawab gadis ke dua.
“ Kok bisa ? “ tanya gadis pertama lagi.
Kali ini yang menjawab gadis ke tiga, “ Tadi aku lihat sebuah bola mengenainya. Dan yang menendangnya itu anak kelas XII IPA 1. “
“ Beraninya dia melakukan itu. Dia enggak tahu ya pria itu enggak bisa tersentuh kotoran sedikitpun ? “ kata gadis pertama.
“ Benar. Kamu tahu ? Waktu aku mendatanginya di dekat madding sekolah, dia bilang kalau aku jarang menggosok gigiku. Katanya napasku bau. “ kata gadis ke tiga. Saat itu Anin tersenyum geli.
“ Dan kamu semua tahu apa yang kutemukan ? Di dalam tasnya ada banyak sekali pembersih yang enggak pernah kamu lihat sebelumnya. Tissue kering dan basah juga ada. Dia juga enggak jajan di kantin. “ kata gadis kedua.
Setelah mendengar perbincangan itu, Anin jadi tahu kalau siswa itu bernama Edgar. Orang yang ingin diceritakan Tara tapi ia lupa untuk meneruskan pembicaraannya dengan Tara. Semenjak hari itu ia terus saja memikirkan bagaimana caranya minta maaf yang benar agar ia dimaafkan. Ia merasa itu bukan masalah besar, tapi ia enggak ingin menjadi kesan yang buruk.
Seminggu setelah hari itu, Anin mencoba mencari Edgar. Bahkan dengan percaya diri ia menanyakan tempat Edgar biasa ‘nongkrong’ kepada teman-temannya.
“ Cukup. Kamu cukup kerajinan tentang hal ini. “ kata Toto sambil menggelengkan kepala. Tapi Anin tetap meneruskan rencananya.
Tiba saat Anin menemukannya di pojok perpustakaan.
“ Jadi disini, “ kata Anin dengan tatapan datar.
“ Apa ? Siapa kamu ? “ tanya Edgar dengan perasaan bingung.
“ Aku minta maaf atas kejadian di hari Senin.” ujar Anin.
“ Kenapa saya harus melakukannya ? “ kata pria itu sambil memicingkan mata.
“ Karena aku sudah sungguh-sungguh minta maaf padamu tahu. Jadi kamu harus memaafkan ketidaksengajaanku itu. “ balas Anin ngeyel.
“ Enggak. Jangan mengganggu. Saya terpaksa mencari tempat aman untuk membaca karena trauma terkena bola lagi. “ kata Edgar dengan nada mulai meninggi.
“ OK. Kuharap kamu mau mengikuti tantanganku. Kalau kamu bisa mengalahkanku dalam sepak bola, kamu boleh enggak menghiraukanku. Tapi kalau aku menang, kamu harus dengan ikhlas memaafkanku. “ kata Anin panjang lebar.
“ Sepak bola ? “ tanyanya terengah.
“ Iya, lapangannya enggak besar. Aku akan mengajak teman-temanku. Dan kamu boleh ajak teman-temanmu. “ jawab Anin lagi. Tetapi Edgar hanya diam kembali tanpa jawaban.
Anin meninggalkan ruangan itu dengan tatapan Edgar yang begitu dingin.
“ Berani sekali dia .. “ ucap salah seorang siswi lain yang mendengar pembicaraan mereka berdua.

Hari sudah mulai siang. Anin bergegas untuk menemui adiknya di depan gerbang.
“ Nin, apa benar kamu melakukannya ? “ tanya Tara.
“ Melakukan apa ? “ tanya Anin.
“ Kamu menantang Edgar ? Di toilet heboh sekali membicarakan hal itu. “ timpal Tara sambil membantu Anin memasukkan buku ke dalam tasnya.
“ Ah masa ? Baru dua jam yang lalu aku membicarakannya dengan Edgar, dan sekarang sudah heboh begitu ? Mungkin karena dia terlalu bersih dan aku ‘kurang bersih’ ? “ kata Anin dengan nada kesal.
“ Enggak. Kamu cukup bersih, hanya sedikit kurang rapi. Tapi apa kamu yakin bisa mengalahkannya ? “ kata Tara lagi sambil memangku dagunya.
“ Tentu saja. Aku tulus ingin minta maaf padanya. “ jelas Anin lagi.
“ Huffhh, hanya karena masalah pakaian yang terkena noda, masalahnya sampai seperti ini. Kalian bedua sama-sama berlebihan. Aku dukung deh. “
“ Makasih, muaaaccchh … “ kata Anin sambil mengecup pipi kanan Tara.

Setelah melambaikan tangan pada Anin dan Rio, Tara duduk di dekat pos satpam sambil menunggu ibunya menjemput.
‘bruk !’ suara tumpukan buku yang jatuh.
Dengan reflek cepat, Tara membantu memunguti buku yang berjatuhan itu.
“ Terima kasih ya. “ ucap siswa itu. Kemudian ia membalikkan wajahnya, “ Tara ? “
“ Ya ? “ sahut Tara bingung mengapa pria yang-ia-tahu bernama Edgar itu mengetahui namanya.
“ Masih ingat saya ? Waktu SD kita satu sekolah. “ ucapnya dengan nada riang.
“ Oh, benarkah ? “ tanya Tara sambil mencoba mengingat.
“ Ayolah. Saya teman sekelasmu yang kamu tolong sewaktu pingsan. “ kata Edgar lagi sambil mengingatkan.
Tara termenung dan ia kembali duduk. Beberapa detik, dan kemudian ia menjawab, “ Wawan ? E titik Dewantoro ? “
“ Iya , benar ! Apa kamu sudah ingat ? “ katanya.
“ Tentu saja. Aku ingat. E itu Edgar ? “ jawab Tara masih bingung.
“ Iya. Sekarang kita bertemu lagi. Kamu kelas XII berapa ? “ kata Edgar sambil menanyakan kembali.
“ Kelas XII IPA 1. Aku sahabatnya Anin. Kamu kenal dia bukan ? “ sahut Edgar lugas sambil mengerutkan dahi.
“ Iya. Temanmu itu menantang saya untuk main sepak bola. Tapi saya enggak bisa kotor-kotoran. Jadi saya berencana untuk menolaknya. “
“ Kenapa ? Bukannya dengan itu kamu bisa membuktikan kalau kamu juga normal seperti yang lainnya ? “ kata Tara dengan nada kesal.
“ Saya memang normal, kok. “ katanya santai.
“ Terlalu normal. Waktu SD kamu enggak begitu. “ ucap Tara pelan.
“ Saya cuma mencoba pola hidup yang bersih. Dan temanmu itu kurang bersih. Lihat saja penampilannya. Aku saja enggak tahan terlalu dekat dengannya. “ sindir Edgar dengan tatapan sinis.
“ Ya sudah. Sepertinya aku enggak bisa memaksamu untuk ikut tantangan itu. “ kata Tara ingin cepat-cepat pergi.
Edgar menghentikan langkahnya sebelum Tara menaiki mobilnya. Sang ibu sudah melambaikan tangan.
“ Saya boleh minta nomor ponselmu ? “ kata Edgar sambil mengeluarkan iPhone miliknya. Dengan cepat Tara memberikan nomornya. Kemudian pergi.
“ Terima kasih. “ ucap Edgar.

Hari-hari terlewati begitu cepat. Ujian akhir semester pertama telah selesai. Anin dan Tara sudah bersiap-siap memanfaatkan waktu liburan mereka yang singkat. Nilai di rapot mereka juga bagus sehingga tidak diragukan lagi mereka mendapat hadiah liburan yang menyenangkan.
“ Menyebalkan. Aku selalu saja yang kedua. “ usap Tara dengan wajah muram.
“ Aku juga enggak tahu. Bersyukur aja. Toh yang terpenting usahanya. Kamu udah ada rencana untuk liburan ? “ kata Anin sambil menyeruput the herbalnya.
“ Ah enggak tahu. Orang tuaku masih sibuk di luar kota. Mereka minta maaf karena enggak bisa menemaniku seperti liburan-liburan sebelumnya. Kakakku udah duluan liburan ke Bali. Aku cuma dikirimi uang saku untuk liburan saja. “ kata Tara terus terang.
“ Oh kalau gitu, kamu liburan bareng aku aja. Aku juga cari temen buat di rumah. Mama dan Rio lagi ku rumah nenekku di Solo. Jadi di rumah cuma ada aku dan ayah. “ jawab Anin sambil tersenyum.
Dalam hati Anin masih ada yang mengganjal. Ia melihat Edgar dengan mamanya saat mengambil rapot.
“ Sayang, udah diminum vitaminnya ? “ ucap mama Edgar.
“ Udah. Aku juga udah pakai obat anti alergi. “ jawab Edgar pelan.
“ Mama bangga sekali. Kamu anak yang sangat pintar. Terma kasih ya, sayang. “ kata mamanya sambil mengecup dahi Edgar.
Edgar tersenyum. Tapi matanya tidak tersenyum. Seakan-akan ia terpaksa melakukan itu semua.

Selang beberapa saat, Tara menepuk punggung Anin.
“ Kamu kenapa ? Apa yang kamu pikirkan ? “ tanya Tara sambil mencari mata Anin.
“ Ah itu. Tentang Edgar. Aku harus minta maaf padanya. “ jawab Anin singkat.
“ Kamu sudah melakukannya. Biarkan dia memikirkan itu. kalau memang dia enggak mau. Biarkan saja. “ ketus Tara dengn wajah ‘BT’ .
“ Iya ya. Hehe . “ ucap Anin lemas.
“ Ya sudah. Aku pulang dulu ya. Nanti malam aku telfon kamu. “ kata Tara sambil pamit.
“ Iya, aku tunggu ya. “

Jam dinding di kamar Anin menunjukkan pukul 20.00 wib. Anin sedang sibuk membaca novel yang baru ia beli. Kemudian sebuah pesan nongol di ponselnya.

Hai. Saya Edgar. Saya mau menerima tantangan kamu. Kasih tahu dimana, dan kapan. Saya cuma punya waktu tiga hari awal liburan.

“ Dia ? Ah bagus ! “ ucap Anin dengan perasaan bahagia. Tiba-tiba nada deringnya berbunyi. Di layar tertulis ‘Tara’ .
“ Assalamu’alaikum.. ‘ ucap Tara.
“ Wa’alaikumsalam. Ra, kamu tahu ? “ balas Anin sambil langsung bertanya.
“ Apa ? Kamu enggak lengkap menceritakannya. “ jawab Tara sambil mengetuk-ngetuk meja dengan kukunya.
“ Edgar. Dia mau ikut tantangan itu. Aku lega. “
“ Sungguh ? Bagaimana kalau kamu kalah ? Dia pasti menyulitkanmu. Aku enggak suka kalau dia seperti itu. kamu harus mengalahkannya. “ kata Tara sambil mencurahkan perasaannya.
“ Semoga. Aku ajak Toto dan Randy. Kamu ajak teman cewek, satu orang. “
“ Ok. Semangat. “ kata Tara sambil menutup ponsel.
Mereka menutup perbincangan. Kemudian sambil menemani ayahnya menikmati cappuccino hangat di halaman rumah.
“ Kamu yakin mau ke sana sendiri ? “ tanya ayah.
“ Engga, yah. Aku mau ajak kak Joe. Aku butuh orang yang kebih dewasa untuk menjagaku disana. “ jawab Anin.
“ Ya, kalau memang kamu mau ajak teman-teman boleh saja. Tapi kamu yang bertanggung jawab atas semua kegiatan di villa milik ayah itu. Ayah akan pantau lewat kak Joe. “ kata ayah mengangguk setuju. Kak Joe adalah sepupu Anin yang sudah seperti kakak sendiri. Sebelum Rio lahir, dialah yang selalu menemani Anin. Sebelum akhirnya Anin menjadi seorang remaja berusia 16 tahun seperti sekarang.

Tak lama kemudian, hari itu datang juga. Anin bersama kak Joe menjemput Tara. Tara mengajak Eva wakil ketua kelas. Anin mengajak Toto, si ketua kelas dan Randy seksi keamanan di kelas. Edgar dan tiga temannya juga sudah berkumpul di depan rumah Anin.
“ Datang juga. Aku kira cuma bicara saja. “ ucap Tara ketus.
“ Hussshhh… “ bisik Anin.
Wajah Edgar tampak tidak peduli. Setelah semuanya siap, mereka menaiki mini bus milik kak Joe. Semua tampak kaget begitu melihat bus itu datang dengan supirnya.
“ Bagaimana bisa- … “ kata Toto.
“ Sudahlah. Naik saja. “ ucap kak joe yang tidak ingin lama-lama mengobrol.
Mini bus itu tampak sangat nyaman. Di dalamnya telah di buat menyerupai sebuah kamar yang lengkap dengan kulkas dan televisi. Walaupun tidak seluas bus yang biasa. Perjalanan itu menjadi sangat menyenangkan. Villa milik ayah Anin berada di Bandung.
“ Ahh segar sekali. “ kata Toto sambil menghirup udara segar.
Yang lainnya keliatan mulai saling mengenal dan berbincang-bincang satu sama lain. Hanya Edgar saja yang belum bicara. Selama perjalanan saja ia hanya sibuk dengan head Phone nya. Dan mengoleskan cairan-cairan yang tidak jelas untuk apa. Menghabiskan satu kotak tissue basah dalam sekali perjalanan. Belum lagi saat memasuki penginapan dia menghabiskan dua jam waktu istirahat untuk membersihkan kamarnya dan membersihkan diri. Akhirnya semua harus menunggu sampai ia selesai.
“ Sekarang kita akan jalan ke tempat peternakan sapi. Semua bersiap-siap. Di garasi sudah ada sepeda untuk masing-masing anak. “ kata kak Joe sambil memberi petunjuk.
Begitu sampai di peternakan, Anin dan teman-temannya melepas alas kakinya dan berlari menghampiri tempat pemerahan susu. Teman-teman Edgar dari English Club juga ikut hanyut mengikuti kegiatan itu.
“ Kenapa diam saja ? Kamu tahu enggak, susu yang setiap hari kamu minum itu ya begini prosesnya. Ayo cobalah. Anak SD saja berani mencobanya. “ ucap Anin sambil menarik lengan baju Edgar.
“ Enggak. “ katanya keras kepala.
“ Kids, ayo kita ke sawah. Kita ikuti kegiatan bertani disana. “ kata kak Joe sambil merangkul Edgar.
“ Seperti anak SD. Menyebalkan. “ bisik Edgar. Walaupun dengan jelas kak Joe dapat mendengarnya.
Toto yang dengan isengnya menyenggol Randy, kemudian Randy menyenggol yang lainnya. Sementara Anin sedang bicara dengan teman-teman Edgar.
“ Oh. Namamu Dion. Lalu si kembar itu siapa saja ? “ tanya Anin serius.
“ Oh, mereka Zaky dan Zian. Teman dekat Edgar. “ sahut Dion sebelum akhirnya mendorong Anin sampai pakaiannya penuh lumpur.
“ HAHAHA ! “ suara Edgar tertawa begitu keras.
Yang lainnya terlihat jengkel. Kemudian mendatangi Edgar yang berdiri tegak.
“ Kalian mau apa ? “ tanya Edgar.
“ Enggak asik kalau enggak semuanya ikutan kotor. “ kata Tara dengan semangat bersama Toto menarik Edgar untuk ikut serta.
“ TIDAAAAAAKKKK !! .... “ .

Hari itu begitu menyenangkan. Malam harinya mereka merayakannya dengan jagung bakar dan wedang jahe.
“ Jangan mengunci pintu begitu. “ kata Anin sambil terus mengetuk pintu kamar Edgar.
“ Ayo makan. “ kata Anin lagi.
“ Percuma saja kamu mengajaknya seperti itu. Tadi dia butuh waktu yang sangat lama untuk membersihkan diri. Aku saja enggak tahan sekamar dengannya. “ kata Zaky sambil menemaninya.
“ Dasar Super Bersih. “ ketus Anin dengan perasaan kesal.
Tara mendengarkan musik dari iPOD. Musik-musik klasik yang ia ciptakan di kelas seni. Toto dan Randy menonton DVD. Zaky dan Zian bernyanyi di luar bersama kak Joe yang jago sekali memainkan gitar. Anin dan Dion masih di dapur membereskan sisa-sisa makanannya tadi.
“ Dia sudah mau makan ? “ kata Anin cukup penasaran.
“ Ya, aku sudah bilang kalau disini enggak adanya maminya yang mau suapin dia kalau dia enggan melakukannya sendiri. Dasar manja. “ jawab Dion.
“ Hebat. Bisa sesabar itu jadi temannya. Aku kan yang mengajaknya. Kalau dia kenapa-napa, aku pasti diomeli orang tuanya. “
“ Hahaha. Kamu harusnya lihat dia tadi. Aku harus menyediakan air panas untuk merendam sendok dan garpu, menggunakan sabun dan pembersih tangan yang membuat tangannya sangat bersih. Belum lagi tissue basah untuk mengelap tangannya kembali. Repot ! “ kata Dion sambil menceritakan.
“ Hihihi “ suara tawa Anin. Edgar dibalik pintu melihat Anin. Ia merasa sedikit bersalah. Tapi ia enggan mendatangi Anin yang sedang mengobrol dengan Dion.

Pagi telah tiba. Semuanya telah bersiap untuk ke lapangan di dekat peeternakan. Mereka akan bermain sepak bola disana. Tetapi yang masih menjadi hambatan, Edgar belum keluar dari kamar mandi.
“ Lama sekali ! Percuma kamu berlama-lama membuang waktu ! ‘ dengan nada kesal Toto mengetuk pintu.
“ Kalau enggak mau tunggu, duluan saja ! “ balas Edgar dengan nada tinggi.
“ Sudah. Jangan bertengkar. Kalian membuatku sedih. “ kata Anin dengan wajah memelas.
“ Maaf. Aku cuma enggak tahan dengan anak sombong itu. “ kata Toto sambil bergegas keluar dari penginapan.
Setelah cukup lama menunggu. Akhirnya tiba waktunya mereka bermain. Eva dan Kak Joe berdiri di pinggir lapangan. Sementara Anin dan timnya, Edgar dan timnya memulai permainan.
Permainan sangat seru dan menantang. Mereka tidak takut akan terkena lumpur ataupun ddebu yang membuat iritasi. Edgar terlihat mulai menikmati permainan itu. Akhirnya ia lupa dengan barang-barang pembersihnya itu. Cuaca yang begitu terik memancing keadaan yang semakin memanas. Toto yang masih merasa kesal terus saja memburu Edgar. Sementara Edgar yang begitu gesit dan membuatnya kualahan. Toto terkejut melihat Edgar yang mampu melewatinya. Di sekolah Edgar terlihat tertutup dan bahkan jaran melakukan kegiatan yang beresiko mengotorkan dirinya. Permainan yang seru itu dimenangkan oleh tim Edgar dengan score 2-1.
Cuaca mulai mendung. Semuanya kelelahan dan merebahkan diri di atas rumput. Di seberang lapangan itu ada lapangan berumput yang nyaman sekali ditempati.
Hujan turun rintik-rintik membasahi kulit mereka yang mengeluarkan hawa panas.
“ Guys, minum dulu nih. “ ucap Eva membawakan ‘ice lemon tea’ yang menyegarkan tenggorokan mereka. Kemudian mereka pulang dan membersihkan diri.

“ Sial. Aku dikalahkan anak itu. “ ucap Toto kesal.
“ Hei. Ini bukan pertandingan antar sekolah bukan ? Aku lebih menganggapnya sebagai pertandingan persahabatan. “ kata Anin dengan lembut.
“ Mana Edgar ? “ tanya Anin pada Tara.
“ Jangan tanya aku. Yang lain sudah pada selesai. Tapi dia, dari satu jam yang lalu masih di kamar mandinya. “ jawab Tara dengan nada kesal.
“ Tapi, apa kamu lihat ? Tadi dia enggak takut kotor. Dia bermain dengan perasaan senang. Aku lega sekali. “ kata Anin sambil mengelus dada.
“ Sungguh ?? Tapi, dia yang menang. Apa kamu enggak ingat ? “ kata Tara lagi.
“ Iya. Aku cukup ingat. “

Anak laki-laki ikut dengan kak Joe membeli makanan di luar. Sementara Edgar duduk-duduk di luar sambil mengotak-atik ponselnya.
“ Aku kalah. Jadi apa maumu ? “ tanya Anin.
“ Apa ? Saya hanya ingin beristirahat . “ jawabnya singkat.
“ Oh. “ jawab Anin. Ia terlihat kecewa.
“ Hm, terima kasih ya. “ ucapnya dengan nada pelan.
“ Untuk apa ? “ tanya Anin.
“ Kamu sudah mengajak saya kesini. Saya senang dapat menikmati semua ini. Teman-teman yang heboh dan kegiatan-kegiatan yang kelihatannya enggak penting ini juga telah membuat saya menyadari satu hal yang penting. “ katanya panjang lebar. Anin menggaruk kepalanya.
“ Apa ? Aku anak perempuan, dan timku kalah karena aku. Itu, kan ? “ tanya Anin kesal.
“ Bukan itu. Harusnya, saya enggak marah. Saya mau memaafkan kamu. Maaf ya selama ini begitu egois dan berlebihan. “ katanya sambil tersenyum tapi wajahnya memerah.
“ Iya. Enggak apa-apa. Hitung-hitung kamu mengajariku bagaimana hidup yang bersih. Hahaha. “
“ Iya, eh, ada telpon. Maaf... “ ucap Edgar sambil berlari ke kamarnya.

Malam mulai terasa dingin. Anak laki-laki sudah pulang. Tapi Anin dan Tara masih di kamar mereka.
“ Dia memaafkanku. Dan enggak menuntut apapun. “ timpal Anin.
“ Ah sunggguh ? Akhirnya, aku akan menceritakannya padamu. “ balas Tara.
“ Apa ? “ . Anin memangku tangannya.
“ Begini ..... “ –flashback-
“ Mau keluar ? “ tanya Tara kecil.
“ Iya, mau jajan di luar. “ kata Edgar dengan rambut klimis.
“ Jangan. Makanannya enggaj bersih. “
“ Tapi aku malah terlambat menyusulnya. Dia menghabiskan sepuluh tusuk makanan itu. Dan saat pulang sekolah perutnya sakit. Dan saat dibawa ke rumah sakit ia keracunan makanan. Saat itu dia enggak sadarkan diri. “ kata Tara menjelaskan.
“ Jadi dia teman SD mu ? Bisa kebetulan gitu ya. “ kata Anin sambil menghambur ke luar kelas.
“ Ayo makan, semua. “ ujar kak joe sambil menghidangkan nasi uduk lengkap dengan ikan lele goreng yang crispy dan sambal terasi. Minumnya jus jeruk yang menyegarkan tubuh.
“ Hmmm enak sekali. Ini ikan apa ? “ tanya Edgar pada Zian.
“ Kamu enggak tahu ? Ini namanya ikan lele. Kamu lihat kubangan yang kita lewati tadi ? Disana memancingnya. Unik, bukan ? “ jawab Zian enteng.
Edgar langsung berlari menuju wastafel dan memuntahkan ikan lele yang telah ia telan. Anin mendekatinya sambil membawa segelas air mineral.
“ Anin .. “ panggilnya. Wajahnya membiru dan muncul bintik-bintik merah.
“ Kak Joe... telpon ambulan ! “ ucap Anin panik dengan kepanikan anak-anak yang lainnya.

Dua minggu telah berlalu. Dua minggu Anin merasa bersalah. Dua minggu Tara dan teman-temannya menunggu Edgar masuk sekolah.
“ Salahku. “ ucap Anin dalam hatinya.
Sejak liburan bersama itu mereka jadi tambah akrab. Walaupun hanya Edgar yang belum terlihat.
Dari belakang Anin melihat bayangan seseorang yang tinggi. Mereka menoleh ke belakang. Dan ‘TADA!”
“ Hai semua !” ucap Edgar sambil tersenyum dengan sebuah bola di kakinya.
“ Edgar ! “ teriak Anin dan teman-temannya sambil saling berpelukan.
“ Aw .. aku pelukan sama Tara dan Eva aja . “ kata Anin sambil memeluk teman-temannya.
Semenjak hari itu Edgar jadi tidak takut kotor lagi. Ia mulai terbiasa dengan kehidupan normalnya yang tdak akan luput dari bakteri seperti halnya noda yang mengotori pakaiannya. Tapi bukan berarti hidupnya menjadi tidak bersih. Kebersihan harus selalu tetap dijaga. Sama halnya seperti persahabatan. Semangat 

Created by Annisa P.L.